Seandainya setiap temu mampu direncanakan kapan pisahnya, maka kelak setiap orang tak akan mengenal kata pisah dalam kamusnya. Namun pisah dan temu adalah suatu bentuk upaya keseimbangan semesta agar dia tetap berjalan sebagaimana mestinya. Hanya saja terkadang angan dan harap kita yang terlalu berlebihan, sehingga hal memang yang seharusnya memang begitu normalnya, terasa aneh di telinga ketika mendengarnya, terasa aneh di hati apabila merasakannya.

Namun apakah dunia sejahat itu ? apakah memang dunia sedang memberi pelajaran yang kita tinggal sebagai esensi utama manusia yaitu soal rasa. Apa memang dunia sedang melatih mental kita agar tidak serta merta disetir oleh suasana.

Dalam benak yang terdalam bertanya apakah memang ini efek serangkaian dosa atau memang hanya ujian belaka, apakah aku salah jika bertanya tidak sopan pada tuhan tentang merajuk pada tiap nasib yang aku rasa, bukankah Tuhan Maha Welas Asih sehingga normal jika aku bertanya demikian rupanya.

Kerapkali aku dihantui akan segala gagal yang datang, tentang kenyataan pahit bahwa zaman modern jika tak kuat maka akan tertinggal, namun bagaimana nasib kami yang tak punya kekuatan baik uang ataupun harta kekayaan. Apakah Tuhan akan membiarkan mulut kami berbusa dengan membiarkan rapalan doa tetap berjalan di sepertiga malamnya. Apa ini tak sia-sia jika dilakukan tanpa dasar tujuan yang jelas tanyanya.

Tetapi setelah aku sadari Tuhan tak membiarkan setiap hambanya kedinginan dalam badai di tengah lautan, ia akan memberi tiap tahap yang ia butuhkan. Misalnya di tahap awal manusia kedinginan karna angin yang datang di waktu malam benar-benar menusuk tiap daging hambanya, lalu ia memberinya waktu siang agar ada matahari yang menghangatkan. Namun diwaktu siangnya seorang yang terjebak dalam kapal yang hampir karam ia mulai merasakan dehidrasi karna kekurangan cairan dan sumber utama kehidupan yaitu air. Meski sang hamba terjebak dalam ribuan kubik air mustahil air dapat masuk kerongkongan, alasannya apa? Karena airnya asin. Lalu tuhan memberi hujan dan awan-awan yang meneduhinya sebentar hingga sampai suatu saat kapal angkutan lewat dan menemukan dirinya. 

Namun apakah benar itu realitanya? Apakah begitu jalan ceritanya? Tentu berbeda tiap jiwa yang merasakannya, lebihnya tuhan ia mampu mengerti apa yang dibutuhkan oleh jiwa-jiwa yang sedang merana. Karena itulah yang membuatnya Esa.

Comments

Popular Posts